03 August 2018

#NHW1 MIIP Jurusan Universitas Kehidupan


Jurusan Universitas Kehidupan

#NHW1 Matrikulasi IIP Batch 6 


Ramadhan tahun 2016 di Yogyakarta, saya menghadiri acara dimana salah satu narasumber yang mengisi saat itu adalah Bunda Septi Peni. Itu merupakan momen kali pertama saya mengenal istilah ibu profesional, disitu juga saya terbuka dengan kata bunda Septi Peni dimana ibu bekerja ataupun ibu full time di rumah memiliki posisi yang tidak berbeda untuk menjelankan perannya secara profesional. Saat itu saya baru lulus sebagai mahasiswa S2 di UGM dan masih menggebu-gebu ingin mencari pekerjaan selayaknya saya ingin membahagiakan orang tua saya yang menginginkan saya lanjut kuliah dan membiayai kuliah saya.

Sebelumnya selama kuliah di Jogja, saya mulai mengikuti seminar/kajian pranikah yang mengakibatkan terjadi kegundahan di hati saya dimana sebagian hati ingin menyegerakan menikah dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak, dan sebagian hati lain ingin bekerja sebagai bentuk eksistensi diri sebagai perempuan yang saat itu akan menyandang gelar M.Sc. Perjumpaan dengan Bunda Septi Peni membuat saya sebetulnya makin ingin menjadi istri dan ibu yang bisa full time ke anak.

Alhamdulillah, tidak jauh berselang beberapa bulan dari Ramadhan saat  itu  saya diterima sebagai pegawai BUMN melalui jalur rekrutmen S2. MasyaAllah saya merasa ini sudah jalan dari Allah, ketika saya berharap rejeki jodoh yang menghampiri namun ternyata Allah 'Azza wa Jalla ternyata membuka rejeki yang lain. Saat itu saya berpikir memang ini rencana Allah untuk saya menyenangkan orang tua terlebih  dahulu & terus belajar untuk memantaskan diri sembari menunggu jodoh datang. Saya mendapat pekerjaan yg mempertimbangkan jenjang pendidikan saya, S2, yang dibiayai orang tua saya. Tentunya orang tua saya sangat bahagia dengan status pekerjaan saya saat ini. Jikalau mama saya bahagia karena saya berstatus pegawai BUMN, papa saya termasuk orang tua yang sangat menyukai & mendukung anaknya yang sukses di karir (selama ini Alhamdulillah sekolah & prestasi saya terbilang dapat membahagiakan orang tua saya).

Dua tahun sudah berlalu dari pertemuan saya dengan Bu Septi, kali ini saya baru bisa berkesempatan bergabung dalam Institut Ibu Profesional (IIP). Saya masih bekerja saat ini dan belum menikah. Saat ini saya sedang mengikuti Program Matrikulasi Batch 6 dari Institut Ibu Profesional dengan harapan program matrikulasi ini merupakan salah satu media saya untuk membekali diri sebagai calon istri dan ibu.

Materi pertama dalam Program Matrikulasi IIP adalah Adab Menuntut Ilmu. Setiap materi yang kami pelajari ini akan diikuti dengan pemberian tugas yang disebut Nice Homework (NHW). Kembalinya saya menulis di blog ini adalah untuk berkomitmen mengerjakan tugas-tugas dari Program Matrikulasi IIP melalui media ini yang secara tidak langsung bertepatan dengan niat saya untuk mulai menulis kembali disini. Berikut jawaban saya untuk #NHW1Program Matrikulasi IIP.


1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.

Ilmu meraih barakah. Kata “Barakah” ini sering saya ucapkan sejak saya memulai kuliah S2 UGM dari tahun 2014. Namun, dulu seringnya hanya penyebutan kata ”Barakah” saja yang berulang tanpa diikuti peresapan makna dari “Barakah” itu sendiri dalam keseharian saya.
Pada tahun 2016, saya mulai sering mengikuti kajian-kajian salah satunya terkait pembahasan pernikahan. Disini saya mulai mengenal bahwa pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah itu memerlukan satu kunci lagi yaitu barakah. Sejak saat itu saya mulai membeli buku-buku pernikahan & parenting islami sebagai langkah awal saya membekali diri saya, sebagaimana saya menautkan do’a untuk disegerakan menikah kepada Allah ‘Azza wa Jalla  dengan kondisi tanpa mengetahui bagaimana sebetulnya konsep pernikahan dalam Islam serta peran seorang istri dan ibu dalam keluarga.

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.

Seiring dengan membaca buku-buku pernikahan karya Ust. Salim A Fillah, Ust. Moch. Fauzil Adhim, dan Pak Cah (saat ini buku karya beliau-beliau ini yang saya punya) membuat wawasan saya menjadi terbuka. Tidak hanya terkait barakah dalam pernikahan dan membangun keluarga, namun “barakah” membuat semua hal yang kita lakukan di dunia ini terasa kebahagiaannya. Meskipun kita diuji akan suatu masalah, kesulitan dalam lingkungan kerja (ini cerita pribadi saya) serta ujian lainnya, karena barakah yang ingin dicapai, semua hal yang terjadi dapat kita lalui dengan selalu berprasangka baik kepada Allah bahwa semua sudah diatur dalam rencana besar Allah ‘Azza wa Jalla untuk kita. Selain itu, semua hal yang kita lakukan dengan mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla, InsyaAllaj akan berbuah manis dimana jutaan kata keindahan tidak cukup menggabambarkan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla ini.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

Disinilah saya mulai melakukan sinkronisasi atas kebiasan-kebiasan sejak dahulu serta pola pikir yang saya terapkan sedari kecil yang sebetulnya merupakan bagian dalam meraih barakah. Ust. Salim menyebutkan dalam bukunya bahwa dalam meraih barakah keimanan dan ketaqwaan adalah yang kita butuhkan.
Strategi pertama yang saya lakukan adalah untuk selalu meluruskan niat alasan saya ingin mendalami ilmu meraih barakah. Hal yang saya lakukan adalah dengan selalu bercermin terhadap diri saya sendiri sebetulnya apakah yang saya niatkan, saya ucapkan, saya pikirkan, dan saya lakukan dalam keseharian saya sudah selaras dan mencerminkan koridor keimanan dan ketaqwaan yang saya harapkan. Strategi kedua yang saya lakukan adalah tidak putus untuk memperbaiki dengan belajar bersama orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu berkumpul dalam kebaikan.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Adab menuntut ilmu yang paling utama saya berusaha perbaiki adalah terhindar dari kata “saya tau itu”, “kok seperti itu saja tidak paham”. Semakin berilmu seharusnya semakin membuat diri kita kecil di dunia ini. Penyakit hati yang berpotensi timbul seiring dengan meningkatnya persepsi bahwa kita makin berilmu dihalangi dengan  selalu berdzikir. Selain itu saya berusaha menyikapi bahwa ilmu itu tidak ada pernah habisnya, maka dari itu suatu hal wajar apabila manusia menyikapi ilmu secara berbeda-beda. Saya berharap dalam menuntut ilmu adalah bukan seberapa banyak ilmu yang bisa saya peroleh tapi seberapa besar ilmu yang saya miliki, meskipun sedikit, dapat diamalkan bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain.


Berikut saya sampaikan jawaban atas simulasi NHW Program Matrikulasi IIP minggu lalu.

Visi & Misi sebagai Istri & Ibu dalam Keluarga

Roadmap Mencapai Visi Misi


No comments:

Post a Comment

Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal #NHW6 Matrikulasi IIP Batch 6  Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar me...