Jurusan Universitas Kehidupan
#NHW1 Matrikulasi IIP Batch 6
Ramadhan tahun 2016 di
Yogyakarta, saya menghadiri acara dimana salah satu narasumber yang mengisi
saat itu adalah Bunda Septi Peni. Itu merupakan momen kali pertama saya
mengenal istilah ibu profesional, disitu juga saya terbuka dengan kata bunda
Septi Peni dimana ibu bekerja ataupun ibu full time di rumah memiliki posisi
yang tidak berbeda untuk menjelankan perannya secara profesional. Saat itu saya
baru lulus sebagai mahasiswa S2 di UGM dan masih menggebu-gebu ingin mencari
pekerjaan selayaknya saya ingin membahagiakan orang tua saya yang menginginkan
saya lanjut kuliah dan membiayai kuliah saya.
Sebelumnya selama
kuliah di Jogja, saya mulai mengikuti seminar/kajian pranikah yang
mengakibatkan terjadi kegundahan di hati saya dimana sebagian hati ingin
menyegerakan menikah dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak, dan sebagian
hati lain ingin bekerja sebagai bentuk eksistensi diri sebagai perempuan yang
saat itu akan menyandang gelar M.Sc. Perjumpaan dengan Bunda Septi Peni membuat
saya sebetulnya makin ingin menjadi istri dan ibu yang bisa full time ke anak.
Alhamdulillah, tidak
jauh berselang beberapa bulan dari Ramadhan saat itu
saya diterima sebagai pegawai BUMN melalui jalur rekrutmen S2.
MasyaAllah saya merasa ini sudah jalan dari Allah, ketika saya berharap rejeki
jodoh yang menghampiri namun ternyata Allah 'Azza wa Jalla ternyata membuka
rejeki yang lain. Saat itu saya berpikir memang ini rencana Allah untuk saya
menyenangkan orang tua terlebih dahulu
& terus belajar untuk memantaskan diri sembari menunggu jodoh datang. Saya mendapat
pekerjaan yg mempertimbangkan jenjang pendidikan saya, S2, yang dibiayai orang
tua saya. Tentunya orang tua saya sangat bahagia dengan status pekerjaan saya
saat ini. Jikalau mama saya bahagia karena saya berstatus pegawai BUMN, papa
saya termasuk orang tua yang sangat menyukai & mendukung anaknya yang
sukses di karir (selama ini Alhamdulillah sekolah & prestasi saya terbilang
dapat membahagiakan orang tua saya).
Dua tahun sudah berlalu
dari pertemuan saya dengan Bu Septi, kali ini saya baru bisa berkesempatan bergabung
dalam Institut Ibu Profesional (IIP). Saya masih bekerja saat ini dan belum menikah. Saat
ini saya sedang mengikuti Program Matrikulasi Batch 6 dari Institut Ibu
Profesional dengan harapan program matrikulasi ini merupakan salah satu media
saya untuk membekali diri sebagai calon istri dan ibu.
Materi pertama dalam Program Matrikulasi IIP adalah Adab Menuntut Ilmu. Setiap materi yang kami pelajari ini akan diikuti dengan pemberian tugas yang disebut Nice Homework (NHW). Kembalinya saya menulis di blog ini adalah untuk berkomitmen mengerjakan tugas-tugas dari Program Matrikulasi IIP melalui media ini yang secara tidak langsung bertepatan dengan niat saya untuk mulai menulis kembali disini. Berikut jawaban saya untuk #NHW1Program Matrikulasi IIP.
1. Tentukan satu
jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Ilmu meraih barakah. Kata
“Barakah” ini sering saya ucapkan sejak saya memulai kuliah S2 UGM dari tahun
2014. Namun, dulu seringnya hanya penyebutan kata ”Barakah” saja yang berulang tanpa
diikuti peresapan makna dari “Barakah” itu sendiri dalam keseharian saya.
Pada tahun 2016, saya
mulai sering mengikuti kajian-kajian salah satunya terkait pembahasan
pernikahan. Disini saya mulai mengenal bahwa pernikahan yang sakinah, mawaddah,
warahmah itu memerlukan satu kunci lagi yaitu barakah. Sejak saat itu saya
mulai membeli buku-buku pernikahan & parenting
islami sebagai langkah awal saya membekali diri saya, sebagaimana saya
menautkan do’a untuk disegerakan menikah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan kondisi tanpa mengetahui bagaimana sebetulnya
konsep pernikahan dalam Islam serta peran seorang istri dan ibu dalam keluarga.
2.Alasan terkuat apa
yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Seiring dengan membaca buku-buku
pernikahan karya Ust. Salim A Fillah, Ust. Moch. Fauzil Adhim, dan Pak Cah
(saat ini buku karya beliau-beliau ini yang saya punya) membuat wawasan saya
menjadi terbuka. Tidak hanya terkait barakah dalam pernikahan dan membangun
keluarga, namun “barakah” membuat semua hal yang kita lakukan di dunia ini
terasa kebahagiaannya. Meskipun kita diuji akan suatu masalah, kesulitan dalam
lingkungan kerja (ini cerita pribadi saya) serta ujian lainnya, karena barakah
yang ingin dicapai, semua hal yang terjadi dapat kita lalui dengan selalu
berprasangka baik kepada Allah bahwa semua sudah diatur dalam rencana besar
Allah ‘Azza wa Jalla untuk kita. Selain itu, semua hal yang kita lakukan dengan
mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla, InsyaAllaj akan berbuah manis dimana
jutaan kata keindahan tidak cukup menggabambarkan kebesaran Allah ‘Azza wa
Jalla ini.
3. Bagaimana strategi
menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Disinilah saya mulai melakukan
sinkronisasi atas kebiasan-kebiasan sejak dahulu serta pola pikir yang saya
terapkan sedari kecil yang sebetulnya merupakan bagian dalam meraih barakah.
Ust. Salim menyebutkan dalam bukunya bahwa dalam meraih barakah keimanan dan
ketaqwaan adalah yang kita butuhkan.
Strategi pertama yang
saya lakukan adalah untuk selalu meluruskan niat alasan saya ingin mendalami
ilmu meraih barakah. Hal yang saya lakukan adalah dengan selalu bercermin
terhadap diri saya sendiri sebetulnya apakah yang saya niatkan, saya ucapkan,
saya pikirkan, dan saya lakukan dalam keseharian saya sudah selaras dan
mencerminkan koridor keimanan dan ketaqwaan yang saya harapkan. Strategi kedua
yang saya lakukan adalah tidak putus untuk memperbaiki dengan belajar bersama
orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu berkumpul dalam
kebaikan.
4. Berkaitan dengan
adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses
mencari ilmu tersebut.
Adab menuntut ilmu yang
paling utama saya berusaha perbaiki adalah terhindar dari kata “saya tau itu”, “kok
seperti itu saja tidak paham”. Semakin berilmu seharusnya semakin membuat diri
kita kecil di dunia ini. Penyakit hati yang berpotensi timbul seiring dengan meningkatnya
persepsi bahwa kita makin berilmu dihalangi dengan selalu berdzikir. Selain itu saya berusaha
menyikapi bahwa ilmu itu tidak ada pernah habisnya, maka dari itu suatu hal
wajar apabila manusia menyikapi ilmu secara berbeda-beda. Saya berharap dalam
menuntut ilmu adalah bukan seberapa banyak ilmu yang bisa saya peroleh tapi
seberapa besar ilmu yang saya miliki, meskipun sedikit, dapat diamalkan bagi
diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
| Visi & Misi sebagai Istri & Ibu dalam Keluarga |
| Roadmap Mencapai Visi Misi |
No comments:
Post a Comment